12 Juni 2016, menjadi hari yang sangat menyenangkan bagi saya. Rasanya saya merasa begitu bersemangat dalam aktivitas saya. Hal itu dimulai saat kami mempersiapkan diri untuk menyambut ulang tahun gereja kami GKPS Padang Bulan yang ke 52 tahun. Dan saya telah ikut merayakannya sebanyak 6 kali. wiiihhh sudah lama ternyata.
Ada hal yang berbeda, tahun ini peran pemuda tidak begitu banyak. Ralat. Peranku yang tidak begitu banyak. Kalau biasanya dalam event besar seperti ini, saya selalu punya banyak hal untuk dilakukan. meskipun sebenarnya tidak harus saya lakukan. Saya memiliki kemampuan untuk bisa terlihat begitu sibuk. Namun hari itu, saya mendapatkan begitu banyak semangat. Tata Ibadah yang disusun begitu baik. Tim musik yang begitu bersemangat. Sampai pada kotbah yang sangat Luar Biasa bagi saya.
Bersyukur untuk Firman Tuhan yang dibawakan Pdt. Jeddy Saragih, dengan waktu yang singkat mampu meninggalkan jejak mendalam dihatiku, yang sampai saat ini melayang-layang di kepalaku. Kotbah siang itu dari 2 Samuel 12 tentang bagaimana Daud ditegur oleh Nabi Natan dengan sebuah perumpamaan tentang si miskin yang punya satu ekor domba kesayangan, dengan si kaya yang punya banyak domba, namun meminta domba si miskin untuk disembelih untuk menjamu tamunya yang datang. si kaya merasa rugi kalau salah satu dari dombanya disembelih untuk menjamu tamunya.
saat Daud belum menyadari maksud perkataan Nabi Natan, dia sangat marah dan menyumpahi si kaya itu agar dihukum. Namun Nabi Natan mengatakan bahwa orang itu adalah Daud sendiri. Dimana ia telah berzinah dengan Betsyeba dan membunuh Uria suami Betsyeba agar Daud bisa mengambil Betsyeba sebagai istrinya. Nabi Natan mengatakan bahwa Tuhan pernah berjanji apapun yang kau minta akan diberikan kepadamu, minta saja. Namun Daud telah menghianati Allah dengan mencuri.
Hal terbaik yang dilakukan Daud saat diperingatkan oleh Nabi Natan adalah Ia mengakui kesalahannya dan memohon ampun. Mengapa itu merupakan hal terbaik? karena banyak manusia yang tidak bisa menyadari kesalahan yang diperbuatnya, meskipu manusia itu sudah diperingatkan. Namun Daud menyadari bahwa Allah lah yang telah membawa dia dari kesuksessan yang satu kepada kesuksesan yang lainnya, sehingga dia yang dulunya hanyalah seorang gembala domba, kini menjadi Raja Besar yang termashur namanya diseluruh bumi.
Daud sangat menyesal dan siap untuk menerima hukuman dari Tuhan. Namun apa yang dilakukan Tuhan? Tuhan telah mengampuninya, Daud tidak akan dihukum secara langsung olehnya. Anak hasil perzinahannya akan sakit dan mati. begitulah cara Tuhan menghukum Daud. Saya berfikir, bukankah hal itu sangat menyedihkan, melihat orang yang kita kasihi menderita atas kesalahan yang kita perbuat?
Dosa selalu membawa konsekuensi.
Hal paling membuatku berfikir keras adalah, ketika Bapak Pendeta menyambungkan tentang firman Tuhan dan Pesta Ulang Tahun gereja ini. Sebuah pertanyaan " Apa kado yang saudara berikan untuk Tuhan Yesus di hari ulang Tahun Gereja ke 52 ini?". Saya mulai berfikir, benar juga, pada umumnya ketika ada yang berulang tahun, pasti ada kado yang di berikan. satu pertanyaan ini membuat saya berfikir, apakah Tuhan mau kado? bukankah Tuhan punya semua yang ada dibumi ini? Lalu apa ya kado yang bisa saya berikan untuk Tuhan?
Yang Ulang Tahun kan bangunan gerejanya. Panitianya hari itu sudah memberikan hadiah untuk gedung gerejanya, yaitu AC baru. (yeaiii) jadi ruangannya sudah adem sekarang. Namun Tuhan yang telah menjadi gembala selama 52 tahun digereja ini memang sudah seharusnya mendapatkan Kado. yah.. Apakah Tuhan sudah mendapatkan kado pada ulang tahun sebelumnya? yahh saya merasa bodoh saudara. dan malu. Saya merayakan ulang Tahun gereja ini sebanyak 6 kali, namun baru memikirkan kado untuk Tuhan kali ini.
kemana saya sebelumnya ya? kok gak kepikiran?
Ditengah pikirn-pikiran saya yang ruwet, Bapak Pendeta akhirnya membantu saya menemukan jalan keluar. (Yeaaaiii) beliau mengatakan bahwa kado terbaik yang bisa kita berikan kepada Tuhan adalah "Segala sesuatu yang telah kau rusak dalam hidupmu". WHAATTT?? aku ternganga. Kado apaan itu? Setahuku yang namanya kado itu pasti bagus, menyenangkan, memberikan kejutan. Dan ini?? apaan?? Segala yang sudah kurusak?? (Speachless saya). Itu bukan Tuhan yang dapat Kado, tapi saya. Kan saya yang enak.
Namun saya berusaha memahami maksud Bapak Pendeta ini. Saya ingat kembali kisah Daud. Dia melakukan hal yang terbaik saat ditegur Nabi Natan, yaitu mengakui kesalahannya. Lalu saya terdiam. Otak dan hati saya beku dan mengilu. seluruh panca indera saya seakan teriak dan sepakat bahwa saya belum mengambil bagian yang terbaik seperti yang dilakukan Daud. Ya, ya, saya malu lagi. Saya menyadari kenapa "Segala yang hancur itu" menjadi Kado yang Tuhan inginkan??
Karena tidak semua mau menyerahkannnya kepada Tuhan untuk dibaharui. diperbaiki kembali. Termasuk saya, saya nyaman dengan kepingan-kepingan yang saya hancurkan ini. berusaha menanggungnya sendiri karena saya pikir tidak akan ada yang mengerti tentang kerusakan yang saya rasakan. yah.. Saya tidak memilih bagian yang terbaik seperti yang Daud lakukan. "Segala yang hancur masih tersimpan dalam hidup saya, belum berani untuk memberikannya kepada Tuhan, karena saya pikir ini sesuatu yang mengerikan. Saya sukai.
Namun Firman Tuhan hari ini sungguh mengubah pandangan saya tentang "Kehancuran" yang ada pada saya. yang saya anggap sebagai suatu aib, dan seharusnya disimpan serapat mungkin ternyata itulah yang menjadi kado Terindah bagi Tuhan.
Kesimpulan ini membuat saya menangis terharu. saya berusaha menahan air mata dan air hidung saya saat ibadah semalam. Malu kalau-kalau ada yang melihat.
Sungguh moment yang jarang sekali aku dapatkan. Pesta kali ini benar menggema dihatiku, bukan karna kemeriahannya, bukan karna enak-enak makanannya, bukan karna semua orang pakai baju cantik atau hadiah-hadiah lucky draw nya. (btw aku pengen TV tapi yang dapat kak Lesrin hehehe). Tapi sukacitaku hari ini karena satu lagi pemikiran primitifku diubahkan oleh Firman Tuhan. Bagaiman perasaan saya saat ini? Saya sungguh malu, Saya sungguh lega. Ternyata ini sungguh diluar dugaan saya. yahh Kemana saya selama ini?
Kisah ini belum berakhir. Satu moment indah lagi yang ingin kuceritakan adalah saat kami para Pemuda kebersihan gereja karena jam 6 sore gereja akan dipakai lagi untuk ibadah sore. Saat menyapu, kami menemukan sebuah gelas diantara kursi jemaat. (ckckckck Jemaat meninggalkannya lagi di dalam gereja). Gelas kaca ini sempat tersapu hingga menimbulkan suara gaduh. Kami khawatir kalau gelas ini pecah tapi ternyata tidak, kami segera membawanya ke tempat penyucian gelas. Spontan saya berkata kepada kak Eka, " Kak Eka, Gelas cuma punya kesempatan satu kali untuk pecah, setelah itu dia gak akan berguna lagi". Setelah mengucapkannya saya berfikir itu kata-katanya berantakan. Namun benar. Gelas kaca yang sudah pecah pasti tidak akan bisa digunakan lagi untuk menyedu teh, kopi dan yang lainnya.
Lalu aku teringat kembali tentang segala yang "Rusak". Saya bersyukur karena tidak terbuat dari kaca. Karena kalo demikian, pasti saya tidak akan punya kesempatan kedua untuk kembali seperti semula. Beruntung karena saya masih bisa memilih, membuat pilihan terbaik untuk hidup saya.
Ketika saya menulis hal ini, menyadari banyak hal dalam hidup saya yang telah saya rusak. Dengan keegoisan, dengan keinginan-keinginan. (Saya pernah menobatkan diri sebagai The Trouble Maker, bisa bayangkan itu kesombongan level berapa?). Dan sebagai saksi yang masih hidup, saya menyadari bahwa memulihkan bukan hal yang mudah, saya sendiri selalu jatuh dan bangun dan jatuh dan bangun lagi, kadang kecapean, lalu jatuh lagi. (cape deh..)
Namun hal baru yang bisa saya dapatkan hari itu adalah, kerusakan membutuhkan perbaikan, Tuhan bisa memperbaikinya, segala sesuatu yang kita rusak dan tidak bisa kita perbaiki. yaa Tuhan bisa memperbaikinya, bagi Tuhan itu Kado yang didambakannya dari kita. yaahhh kemana saya selama ini?