Minggu, 29 Juli 2018

My Angkot My Adventure (Hal Kecil)

Pagi ini berjalan dengan sangat biasa. Bangun, bersiap-siap, berangkat. 
Tak sampe 1 menit menunggu disimpang, angkot 10 datang. langsung saja ku stop. Penumpangnya sudah penuh, hanya sisa di kursi tempel persis dekat pintu. Aku naik saja, berhubung sudah jam rawan terlambat. Aku sungguh ingin tau, bagaimana aku kelihatan dari kejauhan dengan posisi kernet begitu. 

Sebenarnya bisa saja aku duduk disamping supir. Tapi ada seorang nenek yang sudah duduk disana. Aku kenal, sudah sering kami naik angkot yang sama juga pernah duduk didepan bersama. Nenek ini tukang cerita, jika tidak dengan supir, pasti dengan teman sebelahnya.

Sepertinya dia tukang masak di sebuah kantor, setiap pagi dia harus belanja sendiri. Padahal belanjaannya cukup banyak. Beberapa supir yang kenal nenek ini, pasti sudah tau dimana turunnya. Bahkan pernah diantar langsung tepat didepan dapurnya. Romantis banget waktu itu. Hal kecil yang manis.

Oke,, tetap saja aku masih jadi cewek kernet. Beberapa pengendara sepeda yang melintas didepanku gak sengaja menoleh. Aku mengira-ngira apa yang mereka pikirkan tentang keberadaanku di pintu angkot itu. "Kasian cewek ini, semoga gak jatuh", "Wii cewek cantik jadi kernet, foto ahh biar viral (ngarep)", "Emang dia gak ada kerjaan lain selain keret ya? (oii pak, saya bukan kernet, saya hanya kernet tembak ehh)", "Kernet Profesional keknya cewek ini dari posisi duduknya (-_-)", "Duh untung gue punya motor, jadi gak harus kek cewek itu, kasian dia digantung (ehh)", "Alamak jelek kali cewek itu, kenapalah ku lihat pemandangan pagi-pagi begitu (malang)", atau mungkin hanya menoleh dan gak peduli karna sudah terlambat juga. "Bodo amat sama cewek menggantung di pintu angkot, aku benci lampu merah"
Atau mungkin masih ada pikiran lain. Aku cuma iseng. Supaya tidak terlalu terpuruk dengan status "cewek kernet" yang kusandang pagi ini. Aku terima ini sebagai nasib. wkwkwk

Sampai di Pringgan, beberapa penumpang turun, tapi aku gak juga dapat tempat yang layak karena ada aja beberapa penumpang ini yang egois. Gak mau sempit-sempitan, bodo amat sama cewek kernet itu mungkin pikirnya. 

Seorang Bapak disudut belakang angkot memecahkan suasana hening diangkot kami. Oia, aku baru sadar tak ada layanan musik di angkot ini.  Biasa ada, jika beruntung suaranya akan bagus, jika tidak ya nikmati saja perjalanannya. Sebut saja itu nasib. takkan lama kok.
Kembali ke Bapak tadi, dia menelepon. Curhat kepada lae nya. sepertinya cukup dekat, dari nadanya yang bersahabat, tidak tau apa topik pembicaraan mereka, dan bukan urusanku juga, aku cewek kernet sekarang tau.

Lucky me, di Hayam Huruk turun banyak penumpang, akhirnya gue jadi penumpang legal. Yeaay..
Dari perspektif ini, aku bisa lihat jalan didepan sana, eh ternyata supirnya juga aku kenal. Beberapa kali juga pernah mengantar saya. Semacam langganan yang tidak direncanakan.
Kenapa saya ingat? Karena Bapak ini ramah kali, selalu bilang makasi dan hati-hati sama semua penumpangnya. Juga kadang ngasih kembalian padahal biasa juga goceng. Si Bapak dan Si Nenek jadi teman ngobrol yang match didepan sana. Yang paling penting, aku penumpang legal sekarang, sudah punya kedudukan yang sama dengan penumpang lain, dan kursi kernet itu kosong. Baguslah.

Di jalan S.Parman, naiklah seorang ibu dan pemuda yang mungkin kami seumuran atau lebih muda kurasa, kepalanya botak tapi wajahnya melankolis gitu, kek pernah lihat tapi entah dimana, dia duduk disampingku, menghalangi angin, jadi agak gerah. Dan si Ibu duduk di kursi kernet. Cewek-cewek di depanku gak mau bergeser kasi tempat untuk ibu itu, padahal si Ibu udah minta geser. Dasar cewek cantik. Apa susahnya gerah dikit. Mereka gak tau rasanya duduk disana. 

Untungnya itu hanya 2 menit, si cewek-cewek turun di Hang tuah. Ternyata mereka anak kuliahan. Dan Cantik. Sudahlah. Si Ibu kini duduk didepanku. Ada yang aneh dengan ibu ini, Rambut panjang keritingnya tergerai, kering dan kusam, seperti kurang terawat. Tapi dia pake pakaian rapi dan bersih, beberapa cicin dan gelang emas yang besar. Yang bikin makin kontras sebenarnya dia pake kaus kasi putih bersih, dan sepatu kain seperti sepatuku waktu SD (ada yang tau sepetuku waktu SD gimana?). Intinya kurang Matching rasanya. Apa ini style korea terbaru? Tapi kurasa tidak, terlalu sopan dan rapi dan tidak cocok. Tapi ya sudah, gak mungkin juga kutanya. Ditampeleng pulak aku.

Terus angkotnya melaju, Si Bapak yang disudut menelepon lagi, awalnya aku gak terlalu memperhatikan, tapi suaranya yang marah menyita perhatianku, katanya "Dokkon hubana da, mangoli ma ho. Nga habis sude dibaenko, lalap dang tammat. Aha? Semester saratus. Dang huboto be i, sai lalap manjalo hepeng, molo dipapulung sude, nga sukkup biaya pesta na. Suru ma imana mangoli, sian au biaya adat na dokkon. 60 juta nga sae i, hape imana lalap mangindo 10 juta sabulan. Nga lam matua au dohot omak na i, manussahi hami do lalap, dang marpikkir imana"
Aku tersenyum tipis juga mengertilah perasaan Si Bapak itu, pagi-pagi udah dibuat pusing sama anaknya yang gak siap-siap kuliahnya. Tapi keren juga Bapak itu, pastilah dah ada cash 60 juta ditangannya sekarang. Pikiranku melayang ke rekeningku, apa kabar dia ya?? Wkwkwkwk

"Pinggir Bang", Si Ibu kaus kaki tadi mengalihkan perhatianku. Dengan kerepotan dia mengangkat 3 tas nya. 
"Adanya ongkosnya? Kalau gak ada bilang aja terimakasih", kata supir angkot. 
Haahhh, ternyata begitu. Sejujurnya, aku tidak tahu persis yang kupikirkan. Setelah si Ibu turun dia bilang makasi dengan lantang. Berulang-ulang.
buat kesimpulanmu sendiri.
Aku mikir gini, si supir pasti udah tau si ibu tadi, tapi tetap dikasi naik. Mungkin sekalian jalan kok pikirnya. Hal Kecil yang so sweet kan? 

Perjalanan pun berlanjut, penumpang turun naik, tapi tak sepadat itu lagi. Gak ada lagi yang jadi kernet. Di Depan Uniland Si Pemuda Melankolis itu turun bersama si Bapak yang curhat tadi. Saat melaju Si Bapak supir teriak, "Bang, uangnya lebih ini", "Gak papa Bang", "Oiaa Makasi". Si Pemuda Melankolis ngasih ongkos lebih. Hal Kecil lagi..

Apakah si Pria Melankolis itu merasa bertanggung jawab membayar ongkos ibu Kaos Kaki tadi? Apakah Ibu Kaos Kaki tadi saudaranya? Atau itu adalah caranya semesta bekerja. Hilang dan berganti, Kebaikan akan selalu kembali darimana saja. Mengikhlaskan dan menerima. Aku terdiam, kali ini terpesona dengan Hal kecil yang indah itu.

Aku teringat sekilas, berapa kali aku menyaksikan supir angkot marah-marah pada penumpang yang dirasanya mamberikan ongkos yang tidak sesuai.
Bahkan aku pernah mengurangi ongkosku, tapi aku akan selalu mempertimbangkan jarak tempuh dan energi yang dikeluarkan. Aku membayar sesuai standart yang layak meskipun berkurang dari yang biasa. Apakah aku pelit? Kurasa sih cuma itung-itungan.
Aku sadar deh sekarang. Ampuuun..

Orang baik ada dimana saja, begitu juga orang tidak baik. Dan masing-masing punya cara sendiri untuk memberika kesan bagi orang lain. Jadi teladan atau jadi brengsek. Tapi mereka yang melakukan hal kecil dengan tulus akan lebih mudah diingat oleh banyak orang. Dan sekarang aku ingat Pemuda melankolis itu, dia juga penah melakukan hal yang sama. Hanya saja saat itu ku pikir dia berlebihan, karena supirnya ugal-ugalan. Mungkin supir baik lain yang lebih layak mendapatkannya. Tapi, siapa yang bisa mengatur kebaikan itu datang ke siapa? 
Semoga abang supir ugal-ugalan itu mendapat hikmahnya. 

Hingga akhirnya, aku adalah penumpang terakhir angkot ini, sejam yang penuh kesan. Tapi aku memutuskan memberikan ongkos standart saja. Semoga Si Bapak dapat sewa banyak didepan sana. 

Aku hanya melihat sepanjang pagi ini, aku bukan pemeran utama. Biasanya juga begitu kan? Penonton akan mendapat banyak hikmah. Mungkin suatu hari kita dapat giliran jadi pemeran utama. Semoga kita diberi hikmah yang seperti itu, nurani yang tulus menjadi petunjuk kita untuk melakukan kebaikan. 

It's was Suprised me..
Thankyou

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Angkot My Adventure (Hal Kecil)

Pagi ini berjalan dengan sangat biasa. Bangun, bersiap-siap, berangkat.  Tak sampe 1 menit menunggu disimpang, angkot 10 datang. langsung s...