Minggu, 20 Mei 2018

Piso Surit

Saya lahir di sebuah kota kecil si daerah Simalungun. Simaungun itu salah satu suku Batak.
Keunikan kota kelahiran saya ini adalah berada di perbatasan kabupaten Karo dan Dairi.
Sehingga penduduknya juga majemuk, berasal dari berbagai suku. Simalungun, Toba, Karo, Pak-pak, Cina, Jawa, Minang juga ada, itu sih yang pernah saya jumpai.

Keanekaragaman ini secara otomatis juga membentuk keunikan sendiri bagi kami anak-anak yang lahir dan tumbuh besar disana. Khususnya masalah bahasa.
Bahasa yang digunakan masyarakat sehari-hari merupakan percampuran dari bahasa suku-suku tersebutm dan uniknya diterima dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat.

Saya mengetahui hal ini, saat saya bergabung dalam sebuah Pelayanan pemuda Gereja di Kota Medan, yang pasti terdiri dari pemuda Simalungun dari banyak daerah. Mereka selalu menertawakan cara kami yang berasal dari Saribudolok ketika sedang berbicara. Mereka bilang lucu dan aneh, sementara kami juga merasa bahasa dan dialeg mereka juga aneh.
hahaha

Back to Topik..
Karna bertetangga dengan suku lain itulah, saya sedikit mengerti bahasa mereka dan menyukai perbedaan kami.
seperti aku dan kamu *ehhhh
dan secara tidak mudah dijelaskan, saya juga menyukai musik mereka, dan pengen tau juga kekayaan seni mereka.


Pengantar yang panjang bukan?
Maapkan ketidakfokusan saya.
Kali ini, saya mau berbagi ulasan sebuah lagu dari daerah Karo yang saya sangat suka.
kapanpun, dimanapun saya gak pernah bosan dengarnya.
sebenarnya lagu ini memikat hati saat saat mendengar versi arransemen Viky Sianipar.
"Piso Surit".
Sebelumnya saya gak terlalu mengerti tentang musik, saya hanya penikmat. Dan perpaduan musik bang Viky dengan suara kak Mega Sihombing itu mampung meluluhkan hati men. Saya sampai rela berhenti mencuci piring kalau lagu ini diputarkan.
Sangat mudah untuk terhanyut dalam iramanya dan syairnya.
Pesan kerinduan yang menyiksa tersampaikan dengan sukses kedalam hati saya.
ugghhhh..
Namun dilagu ini malah, dia gak bertemu sama orang yang dicintainya itu.
Seperti burung yang menyisulkan kesedihan, memanggil-manggil berharap dia akan mendengar, atau alam akan menyampaikan.
Begitulah rindu, menumbuhkan pengharapan. Bahkan sampai alampun seperti memberikan harapan dalam kesunyiannya.
*Jadi.rindu.saya.men..
Sukak banget deh..


Ini dia sedikit tentang lagu ini. dari wikipedia ni.. heehehe *gak kreatip

Piso Surit adalah salah satu lagu, syair, serta tarian budaya Batak Karo yang menggambarkan seorang pria yang sedang menantikan kedatangan kekasihnya. Penantian tersebut sangat lama dan menyedihkan dan digambarkan seperti burung pincala (burung yang berekor panjang dan pandai bernyanyi) yang sedang memanggil-manggil.

Lagu ini seharusnya dinyanyikan oleh seorang pria. Dari rangkaian lirik lagunya, lebih dapat kesan sang penyanyi adalah seorang pria. Lirik lagu ini juga memberikan kesan bagaimana cara Orang Karo jaman dulu berpacaran.

*Saya coba tambahkan translate dari berbagai sumber
*maap kalo pintar-pintaran. wkwkwk

Piso Surit

Piso Surit, Piso Surit
(Piso Surit, Piso Surit)
terdilo-dilo terpingko-pingko
(Bercuit cuit, memanggil manggil)
lalap la jumpa ras atena ngena
(namun tidak kunjung berjumpa, dengan pujaan hatinya)

i ja kel kena tengahna gundari
(dimanakah dirimu saat ini)
siangna menda turang atena wari
(dan hari pun kini menjelang senja)
entabeh naring mata kena tertunduh
(lelap sekali sepertinya tidurmu)
kami nimaisa turang tangis teriluh
(sementara aku disini menangis menunggumu)

nggo nggo me dagena mulih me gelah kena
(sudahlah, pulang sajalah lah kau)
bage me nindu rupa ari oh turang
(demikianlah yang selalu kau ucapkan)

*bagian ini sebenarnya dinyanyikan diwal kalau versi bang Viky Sianipar
tengah kesain keri lengetna
(Di tengah pekarangan amatlah sunyinya)
remang mekapal turang seh kel bergehna
(Kabut tebal sayang amatlah dinginnya)
tekuak manuk ibabo geligar
(Berkokok ayam di atas kandangnya)
enggo me selpat turang kite-kite ku lepar
(Sudah runtuh sayang jembatan ke seberang)


Piso dalam bahasa Karo sebenarnya berarti pisau dan banyak orang mengira bahwa Piso Surit merupakan nama sejenis pisau khas budaya batak karo. Sebenarnya Piso Surit adalah kicau burung yang suka bernyanyi. Kicau burung ini bila didengar secara saksama sepertinya sedang memanggil-manggil dan kedengaran sangat menyedihkan.
Burung Piso Surit biasanya berkicau di sore hari. Jenis burung tersebut dalam bahasa karo disebut "pincala" bunyinya nyaring dan berulang-ulang
Pit-cuit (cit-cuit)
Pit-cuit (cit-cuit)
*ditirukan.otomatis
hampir mirikan dengan bunyi seperti "piso serit".
*maksa.banget
Kicau burung inilah yang di personifikasi oleh Komponis Nasional Djaga Depari sang pencipta lagu Piso Surit ini.
keren kannn..
cok ko dengarkan aja lagunya.
Versi aransemen bang Viky ya..
Mantaplah Pokoknya

Ni dia youtubenya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Angkot My Adventure (Hal Kecil)

Pagi ini berjalan dengan sangat biasa. Bangun, bersiap-siap, berangkat.  Tak sampe 1 menit menunggu disimpang, angkot 10 datang. langsung s...