Selasa, 30 Januari 2018

STILL

Aku menatap kosong. Aku hanya ingin menatap karena mataku tidak bisa tertidur. Aku takut menutup mataku, karena saat menutup mata, pikiranku berusaha mengingat apa saja, mencerna apa saja, termasuk hal buruk yang tidak pernah terjadi. Dia mencerna segalanya. itu membuatku tidak tenang. Namun, saat aku menatap kosong, hatiku yang perih. Kesedihan menyeruak didalamnya. Tidak ada keringanan. Tidak ada rasa bahagia yang terlintas. Entah kemana semua itu pergi.
Aku hanya ingin menatap kekosongan. Bahkan aku tidak tahu untuk berapa lama. Mungkin sampai seseorang datang dan membuatku tidak nyaman. Atau mungkin sampai aku merasa  lapar. Kenyataannya adalah aku bahkan tidak peduli jika aku lapar, aku belum mandi, bau makanan busuk di piring minggu lalu masih tergeletak dilantai kamarku. Badanku gatal, ketombe di kepalaku sudah menumpuk, atau kecoak bintang paling ku benci sekalipun lewat dihadapanku aku tidak peduli.
Aku ingin menikmati kesedihan ini. Menatap kosong atas setiap harapan yang tiba-tba hilang. Sukacita yang lenyap mendadak. Dan ketidakmampuanku mencerna dan menerima semua yang terjadi. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Terkadang aku menangis saat sakit didalam hatiku terasa begitu ngilu, dan menyayat. Terkadang aku memeluk kakiku yang mendekap dadaku untuk menghilangkan rasa sakitnya. Merapatkan gigiku, supaya aku tidak berteriak. Atau membenamkan mulutku ke bantal. Air mataku membasahinya lagi.
Saat rasa sakitnya mulai mereda, aku tertidur. Lalu terbangun karena sakit yang sama, bebrapa jam kemudian. Otomatis aku membekap mulutku. Kali ini ke boneka di sebelahku. Aku kembali menangis dan berusaha meredakan rasa sakitnya. Lalu menatap kosong. Tidak ada senandung, yang biasanya kudendangkan sambil aku menangis. sebelumnya aku bisa mengatasinya dengan baik, kali ini tidak lagi. tidak ada playlist lagu kesukaanku yang terlintas dikepalaku saat ini. Tak satupun ingin ku lalukan selain menatap kosong.  Aku tidak ingin melakukan apapun. Termasuk bernyanyi.
Layar Smartphone ku menyala, aku melihat foto wanita paruh baya disana. Mama Calling.. aku hanya menatapnya. Tak ada keinginan untuk menerima panggilan Mamakku. Seakan itu hanya sesuatu yang biasanya terjadi. Seperti lampu yang tetap menyala, seperti jarum yang terus berdetak, seperti suara kendaraan yang lalu lalang diluarsana. Itu yang seharusnya terjadi, dan aku tak perlu berbuat apapun. Hanya menikmatinya. Layar itu mati. Lalu menyala kembali dengan foto dan tulisan yang sama. Entah sudah berapa kali. Aku menglihkan pandanganku ke pintu lalu menatap kosong lagi. aku takut menutup mataku.

*****
Aku mendengar pintu diketuk. Aku tahu siapa itu. dia memanggil namaku. Nada khawatir. Aku tidak ingin beranjak. Aku baru saja bangun dari tidur nyenyak. Dia masih mengetuk pintu. Pelan dan kali ini suaranya muncul dari tenggorokannya. Aku yakin dia menangis. aku masih tidak ingin beranjak dari tempatku. Mungkin dia khawatir, atau dia mengira aku sudah mati disini. Aku bergerak, melihat sebuah buku.  Mengambil dan melemparnya ke tembok. Dia berhenti menangis. lalu aku menutup kepalaku dengan bantal. Aku tidak ingin mendengar apapun.
Aku ingin tidur. Lalu aku merasa sangat ringan dan tenang. Aku berada di sebuah lapangan berumput hijau. Padang yang tumbuh menandakan tempat ini jarang dilalui orang. Aku berjalan berlari melompat-lompat kesana-kemari. Kadang berguling dan meniru gerakan beladiri yang pernah ku lihat di film action kesukaanku. Terasa begitu menyenangkan. Mataharinya juga begitu hangat. Tidak terik. Sepertinya ini pagi hari. Semua masih sejuk terasa disini. Aku menghirup udara dalam dalam, mensuplai udara segar kedalam paru-paruku yang terasa makin mengcil. Namun terasa sakit. Seperti udara itu menyentuh bagian bagian yang luka di dalamnya. Aku mendekap dadaku yang terasa sakit didalamnya.
Setiap perasaan itu muncul, airmataku selalu mengalir. Otomatis. Dan tiba-tiba kesedihan itu kembali menyeruak. Langit menjadi hitam, angin kencang mengalihkan fokusku dari rasa sakit yang kurasakan tadi. Aku menatap kelangit yang menghitam itu. pekat sekali, dan itu tidak biasanya. Aku mulai ketakutan. Tentang apa yang akan terjadi. Gigiku gemetaran. Seluruh badanku bergetar hebat, dan kaku. Aku tidak akan mampu berlari menghindari badai ini. Aku sangat yakin kalau aku akan mati disini. Tidak ada yang bisa kulakukan, aku tidak akan selamat.
Lalu aku terduduk di tempat aku berdiri. Ini tidak lagi dipadang. Tanganku menyentuh pasir. Saat mengangkatnya, butiran pasir menempel, dtanganku. Aku mengalihkan perhatianku lagi sampai aku menyadari, langit sudah tidak sepekat tadi. Embun sudah mulai berganti warna sepertinya ini sudah senja. Matahari tampak cantik setengahnya seperti sudah ditelan oleh air di pantai ini. Seperti pemandangan di internet. Aku pernah melihatnya. Aku menyaksikan sampai matahari tak tampak lagi. warna jingga dilangit membuat hatikuterasa hangat. Hingga dilangit yang bersih, satu persatu bintang mulai bermunculan.berkelap kelip. Beberapa rasi bintang, aku bisa melihatnya. Embun embun tipis menghiasi langit itu. seperti lukisan. Aku juga pernah melihatnya entah dimana. Sungguh indah.
aku menatapnya sampai tertidur. Dinginnya hembusan angin terasa dikulitku. Aku sedikit kedinginan. Tapi segera sebuah selimut membungkus badanku yang meringkuk. Ini bukan pasir. Ini kasur. Dan aku merasa sangat nyaman disini. Aku mulai tersenyum. Aku menutup mataku. Sebuah lagu seperti dinyanyikan menghantar tidurku. Sebuah lagu cinta, sebuah lagu tentang penyertaan yang tiada akhir. Sebuah lagu yang berisi janji akan selalu ada hari yang lebih baik. Semua baik.

STILL
Hide me now, Under Your wings
Cover me, Within Your mighty hand

When the oceans rise and thunders roar
I will soar with you above the storm
Father, You are King over the flood
I will be still and know You are God


Find rest my soul, In Christ alone
Know His power. In quietness and trust
https://www.youtube.com/watch?v=C-8TD0HaLfg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Angkot My Adventure (Hal Kecil)

Pagi ini berjalan dengan sangat biasa. Bangun, bersiap-siap, berangkat.  Tak sampe 1 menit menunggu disimpang, angkot 10 datang. langsung s...