Selasa, 13 Maret 2018

PENGAMPUNAN


Bicara tentang pengampunan.
Gak perlu alasan muluk untuk membenci seseorang. Sensi sikit ditambah kompor-kompor sumbu 16 pun udah cukup bikin panas. Senggol sikit, bacok.
Segitu gampangnya membenci sesuatu.

Tulisan tentang Pengampunan ini diilhami dari kumpulan cerita, kisah dan kejadian-kejadian yang terjadi disekitar penulis. Baik Online, Offline maupun Live (Streaming).*LOL
Semoga bermanfaat.

(Yang pertama) Beberapa saat lalu saat main-main fesbuk. Perhatianku terhenti di beranda kak Dedek Scatter Damanik. (aku masih penasaran kenapa namanya Scatter) dan dengan serius baca postingan kakak itu yang berjudul “Membenci maka Berperang” kisah tentang kegiatan benci membenci dalam keluarga.
Aku terkagum, tulisannya nyata dan berani (aku belum seberani itu). Melalui tulisan ini perenunganku dimulai. Topik Kebencian dan Peperangan mengingatkanku pada sebuah film yang pernah ku nonton. Aku sampe nanya Edak Maria karna lupa judulnya.

(Yang Kedua) Judul filmnya "Freetown" (direkomendasikan untuk ditonton)
Ada satu kutipan percakapan difilm itu yang selalu teringat-ingat dikepalaku. Yaitu, saat para missionaris dan warga bersembunyi dari serangan orang-orang bersenjata, seorang anak kecil bertanya kepada salah satu missionaris itu.
“Mengapa mereka melakukan hal itu?" (red: membunuh, melukai, menyiksa orang lain)
"Karena beberapa orang diajari untuk membenci”.
“Oleh siapa?”.
“Oleh orang-orang yang dibenci”.

Ciyus.. Hatiku miris. Seorang anak kecil yang pingin tau. tapi gak paham. Mungkin dia masih bingung maksudnya si missionaris itu apa. (karena abis nanya itu, dia tidur. sakit kepala mungkin) (so, you got it??)
Kebencian membuat penderitaan, merusak perdamaian dan kebencian diwariskan. Tanpa alasan spesifik. Taat saja. lakukan saja. Gak perlu banyak tanya.
Sehingga, atas dasar urusan pribadi/keluarga/kelompok/organisasi, munculah ujaran-ujaran kebencian. Kelakuan yang dengan sengaja menyakiti. Perkataan yang singgung menyinggung. Komentar - komentar pedas para netizen. On line dan off line. Nyata dan Maya dan jajaran “keluarga besar” kebencian-kebencian datang bergantian, menambah, menimbun, menunggu untuk meledak.

(Yang Ketiga) Lalu aku melihat kedalam diriku. Aku juga gitu, pandai menemukan alasan untuk membenci seseorang dan lebih pandai mengembangkannya dalam hati. Lalu secara alami dan tidak disadari aku memeliharanya, makin lama makin menumpuk. Hingga mengganggu kejiwaan (hayoo). Selalu kepikiran, emosian, tidak tenang, mengutuk dalam hati. Marah sendiri, tersakiti sendiri. Uring-uringan sendiri. Gak tontangla pokoknya.. (*Simalungun style)

Trus gak sengaja terkepoi ku lah orang yang ku benci itu. kulihat kayaknya bahagianya hidupnya, lancar usahanya, banyak uangnya. Makin panaslah hati inikan. *nyesal kepo
Apa ku bakar aja sampah depan rumahnya pikirku. (Tuing)
Enggaklah.. aku gak mau senekat itu. Tapi aku juga gak berani melabrak.
*FYI Pada dasarnya aku orang baik. level 6 la dari 10 poin, jadi bukan jenis parbada. Karena langsung turun tensiku kalau emosian. *LOL
Nasib orang-orang introvertlah yaaa, memendam, mencintai perdamaian dengan kata lain merusak diri sendiri dari dalam. *Heeee
(Back to topik) Ternyata gak ada efeknya sama orang itu semua dampak kebencian yang kurasakan itu. Baik-baik sajanya hidupnya ku lihat. Jadi kasihan aku sama diriku sendiri. *Hahahaha

Lalu ku renungkan,, ini masalahku. Aku yang benci dia, sementara dia gak merasa punya salah samaku. Benci Bertepuk Sebelah Tangan. Sama sakitnya dengan Cinta Bertepuk Sebelah Tangan. Nyesak kali lah waktu tau kenyataan ini. Aku yang merasa melakukan hal bodoh dan tapi ku biarkan pulaknya. Masih gitunya terus.. *miris

(Yang Keempat) Dan hari ini, aku teringat sharing firman kami sewaktu Jam Doa KMS senin lalu.
Dari Matius 22:37-40
37. Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
38. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
39. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
40. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Aku udah sering dengar ini. Setiap minggu kurasa. Udah hapal matilahhh.. (sombong)

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu
mu.. mu... mu... Ini bicara tentang diriku. Yang kupunya. Satu-satunya yang mutlak bisa ku kendalikan. Yang bisa kuputuskan menggunakan itu untuk mengasihi atau membenci. Mengasihi Tuhan Allah dengan hati, jiwa dan akal budi kita. Yang konon sudah tercemar oleh kebencian.
Hatiku bilang “Julika, are you kidding me???”
Mari evaluasi.. E-VA-LU-A-SI..

“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”
Sementara memelihara kebencian dalam hatipun merupakan tindakan tidak mengasihi diri sendiri. Konon lagi mengasihi orang lain. Bohong kali laaa kita bisa mengasihi orang lain, tapi tidak mengasihi diri sendiri.
Itu bukan mengasihi, tapi mengasihani.
bukan ingin dikasihi, tapi dikasihani.
(ceileee ngomongnya sok paten)

Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi
Kasih itu dasarnya pasti. Kasih dari Tuhan Allah.
Seiring berkembangnya dunia yang fana ini. Hukum-hukum juga mengalami penyesuaian. Kebijakan dan usaha-usaha manusia dalam menciptakan perdamaian juga mengalami penyesuaian. "Menurut pendapatku" adalah tameng bagi orang-orang untuk menyelamatkan diri dari pendapat-pendapatnya yang dirasanya benar. bebas berpendapat bung. Ini Negara Demokrasi.
Namun yang pasti. Kebencian ini sudah merusak hukum perdamaian itu. Terlalu banyak revisi sehingga tidak lagi mengacu pada dasar yang sesungguhnya yaitu “Mengasihi Tuhan Allah dan mengasihi sesama manusia seperti dirimu sendiri”

K-A-S-I-H 

Sampai – sampai ada seseorang/ keluarga/ kelompok/ organisasi/kumpulan yang visinya perdamaian, tapi misinya parbadaan. Ada? Banyak!!! Udah kabur batasannya antara benar dan salah. Yang ada cuma kepentingan dan keuntungan sendiri. (udah kayak orasi di demo-demo!!)

(Yang Kelima) Aku pernah dengar quotes “Bukan “GIGITAN”nya yang membunuhmu. Tapi “BISA”nya.”Kebencian itu seperti bisa ular. Bergerak lambat tapi pasti mematikan. Terlambat menangani ya lewat. (aku liat ditipi-tipi).
Saat aku membenci seseorang, hal itu terus menyakitiku. Apapun yang dilakukan orang itu menyakitiku, meskipun cuma sekedar update status yang sama sekali gak ada hubungannya samaku. Sempat-sempatnya hatiku bilang “ko tengokla, bisa-bisanya dia bahagia tanpamu”. Gila gak? Segitu sensitifnya. Terkadang pengen rasanya menghapus dia dari muka bumi ini. Melawan Tuhan. (BOOMM!!)

Kelanjutan sharing kami kemarin (Sambungan Yang Keempat), membuka pandangan primitifku tentang pengampunan.
Pengampunan yang selama ini ku lakukan adalah, supaya hubungan yang rusak jadi baik. Supaya dia gak merasa bersalah lagi atas kesalahannya (jika sitersangka minta maaf). Dan karena aku orang Kristen diperintahkan untuk mengampuni.

Hal yang luput dari “akal budiku yang penuh dosa ini” adalah,
Pengampunan itu kebutuhanku. Yaaahhh … Aku terlalu munafik untuk mengakuinya. Merasa aku itu sudah baik dengan mengampuni orang lain. Melupakan kesalahan dan memulai cerita yang baru. Aku meyakini bahwa aku akan baik-baik saja.
yaahhh memang. Sampai aku merasa tidak baik-baik saja.
(hanya beberapa saat rasa “baik-baik saja” itu tinggal)
Saat perlakuan yang sama kuterima lagi, aku dua kali lipat membenci. Dua kali lipat marah. Dua kali lipat memendam. Tensiku dua kali lipat turun.
Hancur kali rasanya. Aku mengampuni orang lain tapi tidak mengampuni diriku sendiri.

Begitu cara Tuhan membuatku mengerti. Dengan menghancurkan kesombonganku.
Aku perlu mengampuni diriku sendiri untuk membuang rasa benci itu, “bisa” yang tertinggal itu.
“Bisa” yang menjauhkanku dari Tuhanku.
Aku seharusnya mengasihi diriku sendiri. Berdamai dengan diriku. Hingga kalaupun orang-orang berlaku curang padaku, aku sudah selesai dengan mereka. aku sudah selesai dengan diriku.
Itu tidak akan menyakitiku lagi.
Karena “bisa”nya sudah dikeluarkan dari hati, jiwa dan akal budiku.
Aku sudah dibebaskan.

(Yang Keenam)
Pengampunan lebih dari kata “maaf”. Kau harus mencoba mengampuni saat kata “maaf” tak lagi berarti bagimu (lalapnya kayak gitu dia. Gak akan berubah lagi sampai mati!!!)( Itu Melawan Tuhan. Melawan hukum Kasih).
Kalau payah rasamu, samalah kita. Karena mengampuni melibatkan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi kita yang adalah satu-satunya kepunyaan kita, yang bisa kita kendalikan.
Mengampuni artinya meruntuhkan segala macam ego yang kita bangun susah payah selama ini. 
Demi gengsi, demi eksistensi, demi pengakuan orang lain di dunia yang fana ini.
Mengampuni berarti menghadirkan kasih. K-A-S-I-H 
Untuk kita yang benar-benar mengaku sudah mengasihi Yesus pasti tau bagaimana rasanya pengampunan. Karena kita sudah menerimanya. Itu sebuah jaminan dan kepastian yang tidak akan pernah hilang. Dan tetap harus diperjuangkan.
Selamat Mengampuni. Semoga Roh Kudus yang membal-bal kita saat kita bebal dengan pikiran primitif kita.
Tuhan Memberkati kita semua .


NB:
Tulisan ini terasa bijak. Aku sampe gak percaya kalau aku menulis ini.
Tapi penulisnya tidaklah sebijak tulisannya.
Penulisnya juga masih berjuang untuk mengampuni beberapa orang dalam hidupnya.
Termasuk mengampuni diri sendiri.
Terimakasih untuk semua yang selalu menginspirasi.

Akhir kata……
  • Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu 
  • Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Angkot My Adventure (Hal Kecil)

Pagi ini berjalan dengan sangat biasa. Bangun, bersiap-siap, berangkat.  Tak sampe 1 menit menunggu disimpang, angkot 10 datang. langsung s...